Metode dalam Pembelajaran Fiqih
Pengembangan merupakan sebuah usaha yang dilakukan atas dasar perbaikan dan pengoptimalan sesuatu yang dianggap belum memberikan hasil sesuai tujuan yang diinginkan
secara menyeluruh. Untuk menganalisis sebuah pengembangan, terutama pengembangan metode dalam proses pembelajaran, perlu adanya sebuah pendekatan yang digunakan sebagai cara pandang untuk menilai perlu tidaknya hal tersebut dilakukan. Pedagogik merupakan salah satu pendekatan yang dapat dijadikan
sebagai pendekatan dalam pengembangan metode pembelajaran. Pedagogis diartikan sebagai ilmu pendidikan untuk anak-anak, bersifat
mendidik dan memiliki nilai pendidikan. Pedagogis juga bisa diartikan sebagai sebuah praktek cara seseorang mengajar atau ilmu pengetahuan mengenai prinsip dan metode membimbing serta mengawasi pembelajaran atau secara singkat bisa disebut dengan pendidikan.
Penggunaan metode dalam sebuah pembelajaran memang mutlak untuk dilakukan. Metode dapat memudahkan guru dalam menyampaikan materi pelajaran dengan baik. Akan tetapi hal itu juga tergantung dari kemampuan guru dalam menerapkan metode itu sendiri. Metode pembelajaran dapat diterapkan dengan baik manakala guru
mempunyai kreatifitas untuk menerapkannya. Banyak guru yang mengajar bertahun-tahun dengan metode pembelajaran yang monoton dan apa adanya tanpa peduli dengan kondisi siswa, yang pada akhirnya kegiatan pembelajaran menjadi tidak maksimal dan kurang berkualitas.
Hal semacam itu seharusnya tidak menjadi wacana yang berlarut-larut. Perlu ada upaya yang serius dari pihak guru untuk melakukan tindakan dalam rangka mencari solusi kritis guna memperbaiki kualitas pembelajaran tersebut. Pada akhir-akhir ini sudah banyak guru yang berinisiatif untuk mengupayakan pengembangna model pembelajaran yang kreatif, interaktif dan komunikatif. Dari berbagai pengembangan tersebut ada yang salah satunya difokuskan pada penerapan metode pembelajaran secara maksimal yang dutunjang dengan penggunaan berbagai media pembelajaran.
Pemanfaatan berbagai media
pembelajaran terutama media elektronik ini sekaligus sebagai jawaban atas tuntutan jaman yang diselimuti oleh perkembangan item teknologi, hingga berdampak pada
sistem penyelenggaraan dan
pengelolaan pendidikan. Pengembangan metode berbasis media
dapat dilakukan dengan cara menentukan metode yang akan dipakai dengan mempertimbangkan prinsip dan strategi pembelajaran, kemudian mencari media yang sesuai dan
mendukung langkah-langkah
penerapan metode pembelajaran tersebut.
Prinsip metodologi pendidikan modern selalu menunjuk kepada aspek berganda. Satu aspek menunjukkan proses anak belajar dan aspek lainnya menunjukkan aspek guru mengajar dan mendidik. Oleh karena itu, sebelum upaya pengembangan metode dilakukan, maka ada beberapa asas dalam mengajar dan mendidik yang perlu diperhatikan, yaitu:
1) Memperhatikan tingkat daya pikir anak didik
2) Menerangkan pelajaran dengan cara yang sejelas-jelasnya
3) Mengajarkan ilmu pengetahuan dari yang konkrit kepada yang abstrak
4) Mengajarkan dengan cara berangsur-angsur
5) Memberi tahu tujuan ilmu pengetahuan yang dipelajari kepada anak didik
6) Mengajarkan ilmu pengetahuan dari yang sederhana kepada yang kompleks
7) Memperhatikan sistematika pembahasannya dalam mengajar
Ada banyak macam metode
yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran Islam yang juga relevan
dengan pembelajaran fiqih, diantaranya: metode ceramah, metode tanya jawab, metode diskusi, metode resitasi (pemberian tugas), metode demonstrasi, metode pemecahan masalah (problem solving) metode simulasi. Tidak ada metode mengajar yang lebih baik dari metode yang lain. Tiap-tiap metode memiliki kelemahan dan kelebihan.
Dalam penerapannya tidak satu metode saja yang digunakan dalam satu kali proses pembelajaran melainkan dapat digunakan dua, tiga atau lebih, disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Semakin bervariasi metode yang digunakan semakin menghidupkan suasana kelas bagi siswa-siswi yang belajar.
Menurut Abdurrahman Annahlawi (1989) metode Pendidikan Islam meliputi:
a. Metode Hiwar (Percakapan)
Hiwar (dialog) ialah percakapan silih berganti antara dua pihak atau melalui tanya jawab mengenai suatu topik mengarah kepada suatu
tujuan. Metode ini dalam
pembelajaran umum disebut metode tanya jawab.
b. Metode kisah
Dalam pendidikan Islam, kisah mempunyai fungsi edukatif yang tidak dapat diganti dengan bentuk penyampaian selain bahasa. Dalam
pembelajaran umum disebut sebagai metode cerita.
c. Metode Amtsal (perumpamaan) Metode perumpamaan ini dapat di gunakan untuk mengungkapkan suatu keadaan dengan keadaan yang lain yang memiliki kesamaan untuk menandaskan peristiwa. Dapat pula digunakan untuk menjelaskan kemustahilan adanya keserupaan antara dua perkara yang oleh kaum musrikin dipandang serupa.
d. Metode Teladan
Murid-murid memandang guru-gurunya sebagai teladan utama bagi mereka. Ia akan meniru jejak dan semua gerak gerik gurunya. Guru pendidikan itu memegang peranan yang penting dalam membentuk muridmurid untuk berpegang teguh kepada ajaran agama, baik aqidah, cara berpikir maupun tingkah laku praktis didalam ruang kelas maupun diluar kelas.
e. Metode Pembiasaan dan Pengalaman
Metode pembiasaan diri dan pengalaman ini penting untuk diterapkan, karena pembentukan
karaktermanusiayang
berpendidikan agama Islam tidaklah cukup dengan penjelasan secara lisan saja. Untuk terbiasa hidup dengan teratur, disiplin dan
berpegang teguh pada ajaran Islam memerlukan latihan yang kontinyu setiap hari.
f. Metode Pengambilan Pelajaran dan Peringatan
Betapapun usaha pendidikan dilakukan, jika anak didik tidak mengetahui akibat positif dan negatif maka pendidikan kurang bermakna. Anak didik yang mengerjakan kebaikan pasti akan merasa senang dan menikmati manisnya. Tetapi bila mengerjakan kejelekan pasti akan sedih, kecewa
danputusasa.Metode
pengambilan pelajaran dan peringatan akan kebaikan dan kebenaran dengan cara yang menyentuh kalbu akan menggugah untuk mengamalkannya.
g. Metode Targhib dan Tarhid
Yaitu metode yang dapat membuat senang dan membuat takut. Dengan metode ini kebaikan dan keburukan
yang disampaikan kepada seseorang dapat mempengaruhi dirinya agar terdorong untuk berbuat baik.
Berbagai metode pendidikan Islam di atas yang secara kusus dapat diterapkan dalam pembelajaran Fiqih yakni, Pertama metode Hiwar atau percakapan, metode tersebut sangat diperlukan dalam rangka kegiatan interaksi pembelajaran antara guru dan siswa, seperti misalnya kegiatan tanya jawab yang dilakukan oleh guru dan siswa mengenai pemahaman materi Fiqih yang sedang diajarkan. Kedua metode pembiasaan dan pengalaman. Metode ini diperlukan dalam pembelajaran Fiqih berkaitan dengan materi-materi yang harus dipraktekkan
oleh siswa. Dengan siswa mempraktekkannya secara langsung di kelas terhadap ajaran syari’at yang diajarkan, maka siswa akan lebih cepat untuk memahami materi yang diajarkan. Siswa juga mendapatkan pengalaman praktek pembelajaran secara langsung di kelas yang kemudian dapat dijadikan bekal untuk
mengimplementasikannya secara nyata dilingkungan masyarakat. ketiga metode pengambilan pelajaran dan
peringatan. Pembelajaran Fiqih sebagai bagian dari Pendidikan Agama Islam tidak hanya menekankan pada aspek kognitif dan psikomotorik saja, namun juga menekankan pada aspek afektif. Bahkan aspek tersebut yang paling penting untuk ditekankan. Jadi metode pengambilan pelajaran dan peringatan sangat diperlukan dalam pembelajaran Fiqih untuk menggugah kalbu siswa agar materi Fiqih yang telah diajarkan dapat
diimplementasikan siswa secara sungguh-sungguh dalam kehidupan sehari-hari.
Guru PAI dalam menyampaikan materi pendidikan Islam kini juga banyak yang menerapkan beberapa metode yang
diterapkan dalam pembelajaran umum, karena beberapa metode tersebut memiliki kesesuaian dengan karakteristik materi-materi PAI termasuk materi pelajaran Fiqih. di samping itu seorang pendidik juga harus menyadari bahwa tidak semua metode cocok dengan materi yang akan disampaikan. Metode-metode tersebut antara lain:
1. Metode ceramah
Metode ceramah ialah cara menyampaikan sebuah materi pelajaran dengan cara penuturan lisan kepada siswa atau khalayak ramai.
Metode ceramah adalah teknik penyampaian pesan pengajaran yang sudah lazim dipakai oleh para guru di sekolah. Ceramah diartikan sebagai suatu cara
penyampaian bahan secara lisan oleh guru dimuka kelas. Para murid sebagai penerima pesan, mendengarkan, memeprhatikan,
dan mencatat keterangan-keterangan guru bilamana diperlukan. Metode ini banyak dipilih guru karena mudah dilaksanakan dan tidak membutuhkan alat bantu
khusus serta tidak perlu merancang kegiatan siswa. Dalam pengajaran yang menggunakan metode ceramah terdapat unsur paksaan. Dalam hal ini siswa hanya diharuskan melihat dan mendengar serta mencatat tanpa komentar informasi penting dari guru yang selalu dianggap benar itu. Padahal dalam diri siswa terdapat mekanisme psikologis yang memungkinkannya untuk menolak disamping menerima informasi dari guru. Inilah yang
disebut kemampuan untuk mengatur dan mengarahkan diri.
2. Metode diskusi
Zuhairini, Memberikan pengertian tentang metode diskusi secara umum sebagai salah satu
metode interaksi edukatif diartikan sebagai metode didalam
mempelajari bahan atau
19 Basyiruddin Usman, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), h. 34.
12
penyampaian bahan pelajaran dengan jalan mendiskusikannya
sehingga menimbulkan pengertian, pemahaman, serta perubahan tingkah laku murid seperti yang telah dirumuskan dalam tujuan instruksionalnya.20 Dalam dunia pendidikan metode diskusi ini mendapat perhatian karena dengan diskusi akan merangsang anak-anak untuk
berfikir atau mengeluarkan pendapatnya sendiri. Oleh karena itu metode diskusi bukanlah hanya percakapan atau debat biasa saja, tapi diskusi timbul karena ada masalah yang
memerlukan jawaban atau pendapat yang bermacam-macam.
3. Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi adalah cara
penyajianpelajarandengan
memeragakan suatu proses kejadian. Metode demonstrasi biasanya diaplikasikan dengan menggunakan alat-alat bantu pengajaran seperti benda-benda miniatur, gambar, perangkat alat-alat laboratorium dan lain-lain. Akan tetapi, alat demonstrasi yang paling pokok adalah papan tulis dan white board, mengingat fungsinya yang multi proses. Dengan menggunakan papan tulis
20Zuhairini dan Abdul Ghofir, Metodologi Pembelajaran, (Malang: UM PRESS, 2004), h. 64.
guru dan siswa dapat menggambarkan objek, membuat
skema, membuat hitungan matematika, dan lain – lain peragaan konsep serta fakta yang memungkinkan.
4. Metode Sosio Drama
Sosiodrama adalah suatu cara
mengajardenganjalan
mendramatisasikan bentuk tingkah laku dalam hubungan social, metode bermain peranan, titik tekanannya terletak pada
keterlibatan emosional dan pengamatan indera ke dalam
suatu situasi masalah yang secara
nyata dihadapi. Menurut Abdurrahman Shaleh metode sosio drama dan bermain peran
adalah dua metode yang dikatakan bersama dan dalam penggunaannya sering digunakan silih berganti.
5. Metode Resitasi
Adapun pengertian lain dari metode resitasi adalah cara menyajikan bahan pelajaran di mana guru memberikan sejumlah tugas terhadap murid-muridnya
untuk mempelajari sesuatu, kemudian mereka disuruh untuk mempertanggungjawabkan. Tugas yang diberikan oleh guru bisa
berbentukmemperbaiki,
memperdalam,mengecek,
mencariinformasi,atau
13
menghafal pelajaran yang akhirnya membuat kesimpulan tertentu.
Metode pemberian tugas belajar (resitasi) sering disebut metode pekerjaan rumah, adalah metode di mana murid diberi tugas khusus di luar jam pelajaran. Dalam pelaksanaan metode ini anak-anak dapat mengejakan tugasnya tidak hanya di rumah, tapi dapat dikerjakan juga di perpustakaan, di laboratorium, di ruang-ruang praktikum dan lain
sebagainya untuk dapat dipertanggungjawabkan kepada guru.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar